Blog

Hipertensi: The Silent Killer

Hari Hipertensi Sedunia
Artikel Kesehatan

Hipertensi: The Silent Killer

Hipertensi atau tekanan darah tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala namun menyebabkan penyakit yang serius hingga kematian, sehingga disebut the silent killer. Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah secara terus-menerus diatas tekanan darah normal yaitu dibawah 120/80 mmHg.

Hipertensi berkembang dari prehipertensi, yaitu tekanan darah sistolik 120-139 mmHg dan diastolik 80-89 mmHg. Pada tahap prehipertensi, biasanya belum ada gejala yang dirasakan, kemudian prehipertensi berkembang menjadi hipertensi yang menyebabkan kerusakan organ seperti pada pembuluh darah, jantung, ginjal, retina, dan sistem saraf pusat.  Tekanan darah sistolik pada hipertensi stadium 1 yaitu 140-159 mmHg dan diastolik 90-99 mmHg. Hipertensi stadium 1 dapat berkembang menjadi hipertensi stadium 2 dengan tekanan darah sistolik ≥160 mmHg dan diastolik ≥100 mmHg.

Perkembangan hipertensi dimulai dengan adanya aterosklerosis, yaitu kondisi di mana terjadi penumpukan plak di dinding pembuluh darah arteri yang menyebabkan pembuluh darah menyempit dan mengeras. Pembuluh darah yang menyempit dapat menghambat aliran darah. Kekakuan dinding pembuluh darah arteri dan kelambatan aliran darah ini menyebabkan beban jantung bertambah berat.

Gejala Hipertensi
Gejala hipertensi yang mudah diamati yaitu:

  • Sakit kepala
  • Gelisah
  • Wajah merah
  • Tengkuk terasa pegal dan berat
  • Telinga berdenging
  • Sulit tidur
  • Sesak napas
  • Mudah lelah
  • Mata berkunang-kunang
  • Mimisan

Gejala yang muncul bergantung pada kerusakan pembuluh darah di sistem organ terkait, misalnya perdarahan pada retina disebabkan oleh tekanan darah tinggi yang merusak pembuluh darah kecil (kapiler) di retina.

The silent killer
Hipertensi dalam waktu yang lama menyebabkan komplikasi karena adanya perubahan pada pembuluh darah, jantung, atau karena terjadinya aterosklerosis. Komplikasi yang terjadi yaitu:

  • Komplikasi pada otak
    Komplikasi hipertensi pada otak menyebabkan hipertensi ensefalopati, stroke, ataupun demensia vaskular. Insiden stroke meningkat secara progresif seiring dengan peningkatan tekanan darah, khususnya tekanan darah sistolik pada kelompok umur lebih dari 65 tahun. Namun, pengobatan hipertensi dapat menurunkan terjadinya stroke.
    Demensia vaskular adalah masalah yang ditimbulkan akibat gangguan aliran darah ke otak sehingga menyebabkan kerusakan otak. Kesehatan pembuluh darah otak mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan jantung secara keseluruhan. Dengan menjaga kesehatan jantung akan membantu mengurangi risiko demensia vaskular.
  • Komplikasi pada jantung
    Hipertensi tidak hanya mempengaruhi mikrosirkulasi tetapi juga mempercepat aterosklerosis pada pembuluh darah yang lebih besar. Tekanan ini juga memicu sel untuk bekerja terlalu keras hingga akhirnya sel tersebut rusak dan menyebabkan kerusakan dinding arteri lebih parah. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa kendali, pembuluh darah besar seperti aorta bisa melemah dan menggelembung, yang kita kenal sebagai aneurisma.
  • Komplikasi pada mata
    Komplikasi yang paling sering ditemukan pada mata berupa retinopati hipertensi, yaitu kurangnya suplai darah ke retina dalam waktu yang lama. Retinopati hipertensi terjadi karena kerusakan pembuluh darah akibat tekanan darah tinggi yang berlangsung dalam waktu lama.
  • Komplikasi pada ginjal
    Pada tahap awal hipertensi, ukuran ginjal masih tetap normal, namun lama-kelamaan, ginjal akan kehilangan jaringan parenkim yang membuat ukuran ginjal perlahan mengecil yang menandakan bahwa pembuluh darah didalamnya mengalami gangguan. Hal ini terjadi pada orang dengan hipertensi yang tidak terkontrol.

Banyaknya komplikasi yang bisa terjadi karena hipertensi, sedangkan hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala, sehingga perlunya upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi yang dimulai dengan peningkatan kesadaran ataupun kemampuan individu melalui gaya hidup sehat dengan diet, olahraga, dan pengelolaan stress. Pemeriksaan tekanan darah secara teratur juga diperlukan untuk deteksi dini, terutama pada kelompok yang berisiko. Lingkungan yang mendukung masyarakat untuk dapat menerapkan perilaku hidup sehat juga merupakan faktor penting.

Kebijakan IPB University untuk melakukan healthy life style setiap hari Jum’at pagi memberikan kesempatan dan mendorong warga IPB University untuk melakukan gaya hidup sehat. Selain itu, program medical checkup dan Posbindu yang dilakukan oleh Unit Kesehatan IPB University merupakan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular (PTM).

Pada akhirnya, senjata terbaik melawan the silent killer ini bukanlah pengobatan saat gejala sudah parah, melainkan deteksi sedini mungkin. Jangan menunggu tubuh memberikan sinyal peringatan, karena sering kali hipertensi datang tanpa suara. Mulailah rutin memeriksa tekanan darah dan terapkan gaya hidup sehat sekarang juga sebelum terlambat. Kesehatan anda adalah investasi paling berharga yang tidak boleh dikompromikan.

 

Penulis: apt. Irna Wida Astuti, S.Farm (Apoteker di Klinik IPB Dramaga)

 

Referensi:
Pradono, Julianty, dkk. 2020. Hipertensi Pembunuh Terselubung di Indonesia. Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.

Recent Posts

Categories