Blog

Demam Berdarah Dengue di Kawasan ASEAN: Tantangan dan Upaya Penanggulangan

Hari Demam Darah ASEAN
Artikel Kesehatan

Demam Berdarah Dengue di Kawasan ASEAN: Tantangan dan Upaya Penanggulangan

# Hari Demam Berdarah ASEAN

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue. Penyakit ini menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Gejalanya meliputi demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, ruam, serta perdarahan ringan. DBD menjadi tantangan besar di kawasan Asia Tenggara karena iklim tropis yang mendukung perkembangan vektor nyamuk. Selain itu, urbanisasi yang pesat tanpa sanitasi yang memadai turut memperparah penyebaran penyakit ini.

Penyakit ini bukan hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga secara ekonomi karena biaya perawatan yang tinggi dan produktivitas yang menurun akibat hari kerja yang hilang. Kesadaran masyarakat akan gejala awal dan tindakan pencegahan masih perlu ditingkatkan agar penanganan dapat dilakukan lebih dini.

Epidemiologi DBD di ASEAN

Kawasan ASEAN mencatat beban DBD yang tinggi. DBD pertama kali muncul di Filipina pada tahun 1954 dan dengan cepat menyebar ke negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia. Data dari WHO menunjukkan bahwa lebih dari 70% kasus DBD di dunia berasal dari wilayah Asia Pasifik, dengan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah kasus tertinggi setiap tahunnya.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa angka kejadian DBD mengalami fluktuasi setiap tahun, tergantung pada musim hujan dan efektivitas upaya pencegahan. Tahun 2016 tercatat sebagai salah satu tahun dengan lonjakan kasus signifikan, lebih dari 200.000 kasus dan hampir 1.600 kematian. Penyebaran DBD dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, pengelolaan limbah, serta edukasi masyarakat yang belum merata.

Tingginya angka kasus DBD juga berdampak pada sistem pelayanan kesehatan yang kewalahan menghadapi lonjakan pasien saat terjadi wabah. Oleh karena itu, pendekatan lintas sektor diperlukan dalam pencegahan dan penanggulangan DBD.

Hari Demam Berdarah ASEAN

Untuk meningkatkan kesadaran kolektif di kawasan Asia Tenggara, negara-negara anggota ASEAN mencetuskan Hari Demam Berdarah ASEAN (ASEAN Dengue Day) yang diperingati setiap tanggal 15 Juni. Peringatan ini merupakan upaya bersama untuk memerangi DBD dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat, memperkuat kapasitas sistem kesehatan, dan mendorong inovasi dalam pengendalian vektor.

Setiap tahun, peringatan ini diisi dengan kampanye nasional, kegiatan edukasi, pelatihan tenaga kesehatan, hingga peluncuran teknologi baru seperti vaksin dengue dan alat deteksi dini. Dengan kerja sama regional, negara-negara ASEAN diharapkan mampu berbagi data epidemiologi, strategi pencegahan, serta sumber daya untuk merespon wabah dengan lebih efektif.

Pentingnya solidaritas regional ini tercermin dalam dukungan dari berbagai organisasi internasional seperti WHO dan USAID yang turut memfasilitasi berbagai inisiatif regional.

Upaya Penanggulangan DBD

Pemerintah Indonesia telah menetapkan berbagai strategi untuk mengurangi angka kejadian DBD. Salah satunya adalah gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus, yang terdiri dari Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang wadah air, ditambah langkah-langkah lain seperti penggunaan kelambu, insektisida, dan fogging.

Edukasi masyarakat menjadi kunci utama dalam keberhasilan PSN. Kampanye dilakukan melalui media massa, sekolah, tempat ibadah, dan posyandu. Pemerintah daerah juga dilibatkan dalam pemantauan jentik berkala, pemberian abate, dan survei epidemiologi.

Inovasi teknologi turut mendukung pengendalian DBD, seperti penggunaan Wolbachia, yaitu bakteri yang disuntikkan ke dalam nyamuk untuk mengurangi kemampuannya menyebarkan virus dengue. Selain itu, uji coba vaksin dengue juga sedang dikembangkan dan diujicobakan di beberapa kota besar.

Namun, tantangan tetap ada, seperti ketidakmerataan akses layanan kesehatan, rendahnya kepatuhan masyarakat terhadap PSN, serta keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia di daerah terpencil.

Peran Masyarakat dan Institusi Kesehatan

Peran serta masyarakat sangat penting dalam penanggulangan DBD. Kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah genangan air harus terus ditingkatkan. Sekolah, rumah ibadah, dan kelompok masyarakat dapat menjadi agen perubahan dalam kampanye PSN.

Institusi kesehatan seperti Klinik IPB Dramaga juga memiliki peran sentral dalam memberikan edukasi, deteksi dini, dan layanan pengobatan bagi pasien DBD. Tenaga medis di klinik perlu dilengkapi dengan pelatihan terkini mengenai tata laksana DBD serta memiliki akses ke alat diagnosa cepat (RDT).

Kerjasama antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat sangat diperlukan untuk membangun sistem pencegahan yang komprehensif dan berkelanjutan. Dengan komitmen bersama, diharapkan target pengurangan angka kejadian DBD dapat tercapai.

Penulis : Toyib Saripudin, A.Md.Kep (Perawat Klinik IPB Dramaga)

Referensi :

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Deteksi Dini Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Pengendaliannya di Indonesia Tahun 2023. https://kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/17169572496656b041cb8755.43910670.pdf
  2. Epidemiolog.id. Demam Berdarah Dengue (DBD): Determinan, Epidemiologi dan Program Penanggulangannya di Indonesia. https://epidemiolog.id/wp-content/uploads/2022/03/Demam-Berdarah-Dengue-Dbd-Determinan-Epidemiologi-Dan-Program-Penanggulangannya-Di-Indonesia-Literatur-Riview-2.pdf
  3. WHO Health Emergencies Laporan Bulanan, Maret 2024. https://cdn.who.int/media/docs/default-source/searo/indonesia/whe-monthly-report/march-2024—id.pdf
  4. Tirto.id. Hari Demam Berdarah Dengue ASEAN 2023: Bagaimana Cara Cegah DBD? https://tirto.id/hari-demam-berdarah-dengue-asean-2023-bagaimana-cara-cegah-dbd-gLMc
  5. Kompas.com. Sejarah Hari Demam Berdarah Dengue ASEAN 15 Juni. https://www.kompas.com/stori/read/2023/06/15/160000779/sejarah-hari-demam-berdarah-dengue-asean-15-juni

# Hari Demam Berdarah ASEAN

# KlinikIPBDramaga

Recent Posts

Categories