Blog

HARI DEMAM BERDARAH ASEAN

WhatsApp Image 2026-06-14 at 10.35.18
Artikel Kesehatan

HARI DEMAM BERDARAH ASEAN

Setiap tanggal 15 Juni, negara-negara di kawasan Asia Tenggara memperingati Hari Demam Berdarah Dengue (DBD) ASEAN atau ASEAN Dengue Day. Peringatan ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah momen penting bagi kita semua. Mengingat wilayah tropis Asia Tenggara termasuk Indonesia merupakan zona merah penularan virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Sebagai upaya berkelanjutan, Kementerian Kesehatan RI tengah mengoptimalkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Dengue periode 2026–2029 untuk mempercepat visi global “Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030” (Zero Dengue Deaths by 2030).

Mengapa ASEAN bersatu melawan DBD?

Kasus DBD selalu mengalami fluktuasi tajam setiap tahunnya, terutama saat pergantian musim atau cuaca ekstrem. Berdasarkan kesepakatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, Hari DBD ASEAN digagas untuk menyatukan komitmen regional dalam menekan angka kematian akibat dengue hingga nol persen (zero dengue deaths).

Penyakit ini tidak bisa diremehkan. Gigitan nyamuk betina Aedes aegypti yang membawa virus dapat menyebabkan penurunan trombosit secara drastis, kebocoran plasma darah, hingga kondisi fatal jika terlambat ditangani.

Waspadai Gejala Awal DBD

Kunci utama keselamatan pasien DBD adalah deteksi dini. Jangan tunggu sampai muncul bintik merah di kulit. Segera periksakan ke fasilitas kesehatan jika anda atau anggota keluarga mengalami gejala berikut:

  1. Demam tinggi mendadak yang berlangsung 2 hingga 7 hari.
  2. Sakit kepala, nyeri sendi, dan otot-otot tubuh.
  3. Mual atau muntah.
  4. Lemas atau kelelahan.
  5. Senjata Utama: Revitalisasi Gerakan 3M Plus

Banyak masyarakat mengira fogging (pengasapan) adalah solusi terbaik. Faktanya, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, bukan jentik-jentiknya. Senjata paling ampuh, murah, dan efektif untuk memutus rantai penularan adalah gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) 3M Plus.

Langkah Utama 3M:

  1. Menguras: Bersihkan bak mandi, vas bunga, dan wadah air minimal seminggu sekali untuk membuang telur nyamuk yang menempel.
  2. Menutup: Tutup rapat semua tempat penampungan air seperti toren, drum, dan ember agar tidak menjadi tempat nyamuk bertelur.
  3. Mendaur Ulang: Manfaatkan atau singkirkan barang-barang bekas di sekitar rumah yang berpotensi menampung air hujan.

Hari demam berdarah ASEAN

Langkah Tambahan (Plus):

  • Menaburkan bubuk larvasida (abate) pada penampungan air yang sulit dikuras.
  • Memelihara ikan hias pemakan jentik, seperti cupang atau guppy.
  • Menggunakan obat anti nyamuk dan losion anti nyamuk saat beraktivitas di pagi dan sore hari.
  • Memasang kawat kasa pada ventilasi rumah
  • Tidak menggantung pakaian bekas pakai di dalam kamar.
  • Periksa tempat-tempat penampungan.
  • Menanam tanaman pengusir nyamuk.
  • Memperbaiki saluran air yang tidak lancer.
  • Menjadi Jumantik Mandiri di Rumah Sendiri

Langkah terkecil dengan dampak terbesar dimulai dari diri sendiri. Melalui moment Hari DBD ASEAN ini, mari kita tunjuk satu anggota keluarga di rumah sebagai Jumantik (Juru Pemantau Jentik) Mandiri.

Tugasnya sederhana: luangkan waktu 10 menit setiap akhir pekan untuk memeriksa sudut-sudut rumah, talang air, hingga tatakan dispenser. Jika tidak ada jentik, maka tidak ada nyamuk. Jika tidak ada nyamuk, maka keluarga kita aman dari demam berdarah.

Yuk, jaga kebersihan lingkungan kita sekarang juga. Selamat Hari Demam Berdarah ASEAN!

Penulis : Q. Rimadhany Padma Nirvana, A.md.K.G (Perawat Gigi Klinik IPB Dramaga)

# HARI DEMAM BERDARAH ASEAN

# KlinikIPBDramaga

Recent Posts

Categories