Blog

Hari Peduli Limfoma Sedunia: Meningkatkan Kesadaran tentang Limfoma

Artikel Kesehatan

Hari Peduli Limfoma Sedunia: Meningkatkan Kesadaran tentang Limfoma

# Hari Peduli Limfoma Sedunia: Meningkatkan Kesadaran tentang Limfoma

Hari Peduli Limfoma Sedunia atau World Lymphoma Awareness Day diperingati setiap 15 September. Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai limfoma, mengenali tanda dan gejalanya, mendorong masyarakat untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis yang tepat serta meningkatkan kepedulian terhadap pasien dan keluarga yang menghadapi penyakit tersebut.

Di Indonesia, edukasi mengenai limfoma penting dilakukan karena gejalanya dapat menyerupai berbagai penyakit lain sehingga masyarakat terkadang tidak segera memeriksakan diri. Limfoma merupakan kelompok kanker yang memengaruhi sistem limfatik yaitu bagian dari sistem kekebalan tubuh dan secara umum dibedakan menjadi limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin.

Limfoma adalah kanker yang berkembang pada sel limfosit, yaitu salah satu jenis sel darah putih yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Sel limfosit terutama terdapat pada kelenjar getah bening, limpa, sumsum tulang, timus, dan jaringan limfatik lainnya.Limfoma dapat terjadi pada berbagai kelompok usia. Beberapa jenis limfoma lebih sering ditemukan pada orang dewasa, sedangkan jenis tertentu dapat pula terjadi pada anak-anak dan orang muda. Salah satu tanda yang cukup sering ditemukan pada limfoma adalah pembesaran kelenjar getah bening, terutama di leher, ketiak, atau lipat paha. Pembengkakan tersebut dapat muncul tanpa rasa nyeri. . Namun, pembengkakan kelenjar getah bening tidak selalu berarti seseorang mengalami kanker karena dapat pula disebabkan oleh infeksi atau kondisi lainnya.

Selain pembengkakan kelenjar getah bening, beberapa gejala yang dapat muncul meliputi:

  1. Demam berulang atau demam tanpa penyebab yang jelas.
  2. Keringat berlebihan pada malam hari.
  3. Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  4. Mudah Lelah dan Kelelahan yang berlangsung terus-menerus.
  5. Gatal pada kulit.
  6. Batuk atau sesak napas.
  7. Rasa tidak nyaman atau nyeri di bagian dada atau perut pada kondisi tertentu.

Namun juga, gejala tersebut tidak secara otomatis berarti seseorang mengalami limfoma. Pembesaran kelenjar getah bening, misalnya, dapat terjadi akibat infeksi maupun kondisi lainnya. Karena itu, seseorang yang mengalami keluhan menetap atau tidak biasa sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuaiPenurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa benjolan atau gejala yang menetap sebaiknya tidak diabaikan dan tidak pula langsung dianggap sebagai kanker. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

Menghadapi kanker tidak hanya menjadi tantangan bagi pasien, tetapi juga bagi keluarga. Pasien limfoma dapat menjalani pemeriksaan dan pengobatan dalam jangka waktu tertentu sehingga membutuhkan dukungan fisik maupun emosional.Keluarga dapat membantu dengan menemani pasien menjalani pemeriksaan, membantu mengingat jadwal pengobatan dan kontrol, memastikan kebutuhan nutrisi dan istirahat terpenuhi sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta memberikan dukungan emosional.Dukungan tersebut perlu diberikan tanpa memberikan tekanan kepada pasien. Setiap pasien memiliki kondisi dan respons pengobatan yang berbeda sehingga keputusan mengenai terapi harus didiskusikan dengan dokter dan tim kesehatan yang menangani.

Hari Peduli Limfoma Sedunia bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi merupakan kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat. Informasi mengenai limfoma perlu disampaikan secara benar agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang tidak terbukti secara medis.

Kementerian Kesehatan RI juga menekankan pentingnya deteksi dini dalam penanganan kanker secara umum. Masyarakat dianjurkan tidak menunda pemeriksaan ketika menemukan keluhan kesehatan yang menetap atau mengkhawatirkan

kepedulian terhadap limfoma tidak hanya berbicara mengenai penyakit dan pengobatan. Dukungan keluarga, lingkungan, dan masyarakat juga memiliki arti penting bagi pasien selama menjalani perjalanan pengobatan. Mari tingkatkan pengetahuan tentang limfoma, kenali tanda-tandanya, jangan menunda pemeriksaan, dan berikan dukungan kepada pasien serta keluarganya.

Penulis : Herna Heriah, S.Km

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Data dan Kondisi Penyakit Limfoma di Indonesia. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Panduan Penatalaksanaan Limfoma Non Hodgkin. Komite Penanggulangan Kanker Nasional, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Mengenal Lymfoma. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Keslan
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Kanker Kelenjar Getah Bening (Limfoma). Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI. Ayo Sehat
  5. Hardjolukito, E. S. R., Kurniawan, A. N., Kodariah, R., Ham, M. F., Luo, W. J., Nakatsuka, S. I., & Aozasa, K. (2004). Sinonasal lymphomas in Indonesia: immunophenotype and Epstein-Barr virus association. Medical Journal of Indonesia, 13(2). MJI UI
  6. Purwanto, I. (2020). Incorporation of Brentuximab Vedotin in the Treatment of Lymphoma: Current Evidence and Potential Use in Indonesia. Acta Interna: The Journal of Internal Medicine, 10(1), 50–54. Jurnal Universitas Gadjah Mada
  7. Trisnawati, L. T., Hardianti, M. S., & Purwanto, I. (2023). Prognostic Values of Hemoglobin and Red Blood Cell Distribution Width to Overall Survival in Non-Hodgkin Lymphoma. Acta Interna: The Journal of Internal Medicine, 12(2), 40–54.

# Hari Peduli Limfoma Sedunia: Meningkatkan Kesadaran tentang Limfoma

# KlinikIPBDramaga

 

Recent Posts

Categories