Hari Rabies Sedunia : “Act Now: You, Me, Community”

Hari Rabies Sedunia : “Act Now: You, Me, Community”
#Hari Rabies Sedunia
Hari Rabies Sedunia (World Rabies Day) adalah sebuah kampanye global yang diselenggarakan pada tanggal 28September setiap tahun. Peringatan Hari Rabies Sedunia dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pencegahan dan pengendalian penyakit rabies.
Tema global yang diusung untuk Hari Rabies Sedunia 2025 adalah “Act Now: You, Me, Community” (Bertindak Sekarang: Kamu, Aku, Komunitas). Tema ini menggaris bawahi bahwa tanggung jawab pemberantasan rabies berada dipundak setiap individu dan komunitas secara kolektif.
Hari Rabies Sedunia mulai diselenggarakan pada tahun 2007. Tujuan yang ingin dicapai oleh kampanye ini adalah menjadikan dunia bebas dari penyakit rabies pada tahun 2030 dengan target “Zero by 30” yaitu berkomitmen untuk mencapai nol kematian manusia akibat rabies yang ditularkan oleh anjing pada tahun 2030. Upaya ini menuntut aksi kolaboratif dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, dokter hewan, hingga masyarakat umum.
Ancaman Rabies yang Nyata
Rabies merupakan penyakit zoonosis, artinya dapat menular dari hewan ke manusia. Virus rabies menyerang sistem saraf pusat dan hampir selalu berakibat fatal begitu gejala klinis muncul. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 59.000 orang di seluruh dunia meninggal akibat rabies setiap tahunnya, dengan mayoritas korban berada di Asia dan Afrika. Sebagian besar korban adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun. Tragisnya, 99% kasus rabies pada manusia disebabkan oleh gigitan anjing.
Di Indonesia, rabies masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius diberbagai daerah. Meskipun beberapa provinsi telah berhasil mencapai status bebas rabies, banyak wilayah lain yang masih berjuang melawan penyebaran virus ini. Pada Januari-Juli 2024, data publik menunjukkan 71 orang Indonesia meninggal karena rabies. Di antara 26 provinsi endemis rabies di Indonesia, Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah yang paling terdampak, dengan laporan 19.320 kasus gigitan hewan yang berpotensi rabies pada manusia selama tahun 2023. Hal ini mengakibatkan 35 kematian akibat rabies. Dari Januari hingga Juli 2024, NTT melaporkan 16.180 kasus gigitan hewan yang berpotensi rabies dan 27 kematian akibat rabies. Pemerintah terus berupaya keras untuk mewujudkan Indonesia Bebas Rabies 2030 melalui berbagai program strategis.
Gejala dan Pencegahan: Kunci Utama Melawan Rabies
Mengenali gejala rabies pada hewan, terutama anjing, sangatlah penting. Hewan yang terinfeksi dapat menunjukkan perubahan perilaku drastis, seperti menjadi lebih agresif (ganas) atau justru menyendiri dan tampak lesu (tenang). Gejala lain yang khas adalah takut air (hidrofobia), takut cahaya (fotofobia), dan air liur berlebih.
Pencegahan adalah langkah paling efektif untuk menghindari dampak fatal dari rabies. Berikut adalah langkah-langkah krusial yang dapat dilakukan:
- Vaksinasi Hewan Peliharaan: Vaksinasi anjing dan kucing peliharaan secara rutin adalah garda terdepan dalam memutus mata rantai penularan rabies.
- Edukasi dan Kesadaran: Meningkatkan pemahaman masyarakat, terutama anak-anak, tentang cara berinteraksi yang aman dengan hewan dan bahaya rabies.
- Penanganan Luka Gigitan: Jika terjadi gigitan oleh hewan yang berpotensi menularkan rabies, segera cuci luka dengan sabun di bawah air mengalir selama 10-15 menit. Ini adalah pertolongan pertama yang sangat vital untuk membunuh virus.
- Vaksinasi Pasca Pajanan (PEP): Segera cari pertolongan medis ke fasilitas kesehatan terdekat (Puskesmas atau rumah sakit) untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) sesuai dengan indikasi medis.
Adapun Upaya Indonesia Bebas Rabies 2030, antara lain :
- Program Vaksinasi Hewan Massal
Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan organisasi kesehatan dan peternakan untuk melaksanakan program vaksinasi massal terhadap anjing, kucing, dan hewan lainnya yang berpotensi menularkan rabies. Vaksinasi dilakukan secara rutin, terutama di daerah endemik seperti Bali, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.
- Peningkatan Akses ke Vaksin dan Serum Anti Rabies (VAR)
Setelah gigitan hewan, vaksin anti rabies (VAR) dan serum anti rabies (SAR) harus segera diberikan untuk mencegah rabies. Pemerintah berupaya meningkatkan akses dan ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan, terutama di daerah terpencil. Program subsidi vaksin juga diimplementasikan agar masyarakat dapat memperoleh vaksin dengan biaya terjangkau, melalui kerja sama dengan organisasi non-pemerintah.
- Pelibatan Komunitas dan Organisasi Non-Pemerintah
Komunitas dan organisasi non-pemerintah, seperti Animal Friends Jogja (AFJ) dan Bali Animal Welfare Association (BAWA), aktif dalam penanggulangan rabies. Mereka berperan dalam kampanye kesadaran vaksinasi hewan dan penyediaan sumber daya penanganan rabies. Keterlibatan komunitas dapat meningkatkan cakupan vaksinasi dan mengurangi risiko penularan di masyarakat.
- Penerapan Hukum dan Regulasi
Pemerintah memperkuat regulasi terkait kepemilikan hewan peliharaan, termasuk kewajiban vaksinasi rabies. Penerapan hukuman bagi pelanggaran, seperti membiarkan hewan yang tidak divaksinasi berkeliaran, juga menjadi langkah preventif dalam mengurangi potensi penularan rabies.
- Kampanye “Zero by 2030“
Kampanye global “Zero by 2030” bertujuan menghilangkan kasus rabies pada manusia akibat gigitan anjing, yang menjadi penyebab utama rabies. Kampanye ini didukung oleh WHO, FAO, dan GARC, dan Indonesia berkomitmen untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan rabies di seluruh wilayah. Kampanye ini mencakup pemantauan dan penelitian kasus rabies, pengumpulan data mengenai prevalensi rabies, serta perbaikan fasilitas kesehatan agar akses ke vaksin dan serum anti-rabies lebih mudah dan cepat bagi masyarakat yang terpapar.
Rabies adalah penyakit yang dapat dicegah melalui kolaborasi aktif antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat. Dengan vaksinasi massal, edukasi, serta peningkatan akses terhadap vaksin, diharapkan Indonesia dapat mencapai target bebas rabies dalam waktu dekat. Mari bersama-sama kita ciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat, demi masa depan tanpa ancaman rabies.
Penulis : Muh. Khoirul Anwar (Perawat Klinik IPB Dramaga)
Referensi:
- Global Alliance for Rabies Control (GARC). (2025). World Rabies Day 2025: Act Now: You, Me, Community. Diakses pada 26 September 2025, dari https://rabiesalliance.org/world-rabies-day.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Situasi Rabies di Indonesia dan Upaya Pencegahannya. Diakses pada 26 September 2025, dari situs web resmi Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes.
- World Health Organization (WHO). (2024). Zero by 30: The Global Strategic Plan to End Human Deaths from Dog-mediated Rabies by 2030. Diakses pada 26 September 2025, dari https://www.who.int/teams/control-of-neglected-tropical-diseases/rabies/zero-by-30.
- Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI. (2023). Strategi Nasional Pengendalian dan Eliminasi Rabies di Indonesia.
#Hari Rabies Sedunia