HEPATITIS ITU SAKIT HATI?

HEPATITIS ITU SAKIT HATI?
# HEPATITIS ITU SAKIT HATI
Apa sih hepatitis itu?
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hepatitis merupakan peradangan pada hati atau orang juga sering mengenalnya dengan liver. Hati atau liver ini merupakan organ penting yang berperan dalam proses detoksifikasi dan metabolisme tubuh. Jadi hati ini bukan hatimu yang sering dicampakkan oleh si dia ya, hehe. Hepatitis sering disebabkan oleh infeksi virus, yang menjadi penyebab utama. Namun demikian, hepatitis juga bisa dipicu oleh zat beracun, konsumsi alkohol berlebihan, penggunaan obat-obatan tertentu, serta gangguan autoimun. Penyakit ini dapat bersifat akut, dengan gejala yang muncul secara tiba-tiba dan umumnya sembuh dalam hitungan minggu atau bulan. Namun, jika berlangsung dalam jangka panjang, hepatitis menjadi kronis dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti sirosis hati maupun kanker hati.1
Pada tahun 2022, WHO menyebutkan terdapat 304 juta orang di seluruh dunia yang hidup dengan hepatitis B dan C kronis. Jumlah infeksi baru untuk kedua jenis hepatitis ini mencapai sekitar 2,2 juta kasus. Angka kematian akibat hepatitis B dan C kronis mencapai 1,3 juta jiwa pada tahun yang sama. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 254 juta orang menderita hepatitis B kronis, dengan sekitar 1,2 juta infeksi baru setiap tahunnya. Sementara itu, sekitar 50 juta orang hidup dengan hepatitis C kronis. Secara geografis, wabah hepatitis A dan E lebih sering terjadi di wilayah dengan sanitasi yang buruk.1 Prevalensi hepatitis di Indonesia menurut Survey Kesehatan Indonesia tahun 2023 sekitar 0,12% atau 877.531 orang.2
Bagaimana sejarahnya hepatitis?
Sejarah hepatitis dimulai sejak ribuan tahun silam. Catatan kuno dari Tiongkok menyebutkan adanya kejadian ikterus lebih dari 5.000 tahun yang lalu, sedangkan di Babilonia, kasus serupa tercatat lebih dari 2.500 tahun lalu.3 Hipokrates, sekitar 300–400 SM, menggambarkan penyakit kuning sebagai gangguan yang kemungkinan berasal dari hati, menunjukkan pemahaman awal bahwa hepatitis adalah penyakit infeksius yang menyerang organ tersebut.4 Pada tahun 752, Paus Zacharias mengirim surat kepada Uskup Mainz di Jerman mengenai wabah ikterus yang menular dan menganjurkan karantina bagi penderita, sebagai upaya pengendalian penyakit.3
Berbagai perang besar dalam sejarah juga mencatat terjadinya epidemi hepatitis, seperti pada Perang Suksesi Austria (1743), kampanye Napoleon di Mesir (1798), Perang Prusia-Prancis (1870), serta Perang Saudara Amerika (1861–1865), di mana lebih dari 40.000 tentara dari pasukan Union dilaporkan terinfeksi.3 Salah satu bukti awal penularan hepatitis secara parenteral terjadi pada tahun 1885 di Bremen, Jerman, ketika 191 dari 1.289 pekerja pelabuhan mengalami hepatitis setelah menerima vaksin cacar yang dibuat dari limfa manusia.5
Memasuki abad ke-20, hepatitis mulai diketahui menyebar melalui transfusi darah dan vaksinasi yang mengandung serum manusia.5 Pada tahun 1942, tercatat 28.585 tentara Amerika Serikat tertular hepatitis setelah divaksinasi demam kuning dengan vaksin yang mengandung serum manusia; studi lanjutan menunjukkan bahwa infeksi tersebut disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB).3,6 Selanjutnya, pada tahun 1947, MacCallum memperkenalkan istilah hepatitis A dan B, yang kemudian diadopsi oleh WHO.4
Penemuan virus hepatitis terjadi secara bertahap. Virus hepatitis B (VHB) ditemukan pertama kali oleh Baruch Blumberg pada tahun 1965 melalui identifikasi antigen Australia (AgAu), yang kemudian dikenal sebagai HBsAg.7,8 Virus hepatitis A (VHA) ditemukan pada 1973 oleh Feinstone, Kapikian, dan Purcell melalui mikroskopi elektron terhadap feses pasien hepatitis akut.9 Virus hepatitis D (VHD), awalnya dikenal sebagai sistem Delta, ditemukan oleh Mario Rizzetto pada 1977, dan diketahui hanya menginfeksi individu yang juga terinfeksi VHB.10,11 Pada 1989, virus hepatitis C (VHC) berhasil diidentifikasi oleh Choo, Kuo, Bradley, dan Houghton melalui teknik biologi molekuler dan segera disusul dengan pengembangan uji serologis.12 Virus hepatitis E (VHE) pertama kali dikloning pada tahun 1990 oleh Reyes dan koleganya, setelah sebelumnya berhasil ditularkan secara eksperimental oleh Balayan pada 1983.13
Vaksinasi hepatitis juga mengalami perkembangan signifikan. Samuel Krugman mengawali penelitian vaksin VHB pada 1971, diikuti dengan pengembangan vaksin yang lebih aman dan efektif pada 1981, yang berasal dari plasma donor sehat.14,15 Pada 1986, vaksin rekombinan berbasis teknologi DNA mulai digunakan dan hingga kini masih menjadi vaksin utama untuk VHB.14 Di Brasil, program vaksinasi massal terhadap VHB dimulai pada tahun 1989 di wilayah Amazon, menjadikan negara tersebut sebagai yang kedua di dunia melaksanakan program semacam ini secara nasional.16
Di luar lima virus hepatotropik utama (A–E), ditemukan pula beberapa virus baru antara tahun 1994 hingga awal 2000-an, seperti hepatitis G (VHG), GB virus C, TTV, SEN virus, dan NV-F [18–24].17,18 Namun, hingga kini belum ditemukan bukti yang kuat bahwa virus-virus ini secara langsung menyebabkan hepatitis akut atau kronis pada manusia. Penelitian terbaru bahkan mengaitkan NV-F dengan karsinoma hepatoselular, meskipun bukti lebih lanjut masih diperlukan.18
Gejala dan Tanda Pada Hepatitis
Menurut National Health Service di Britania Raya (semacam kementerian kesehatan negaranya mas David Beckham), secara umum hepatitis seringkali tidak menunjukkan gejala yang jelas, terutama pada fase awal atau akut. Namun, jika gejala muncul, beberapa tanda yang dapat dirasakan antara lain nyeri otot dan sendi, demam tinggi, mual dan muntah, kelelahan berkepanjangan, penurunan nafsu makan, nyeri perut, urin berwarna gelap, feses berwarna pucat atau keabu-abuan, kulit yang gatal, serta kulit dan mata yang menguning (jaundice). Dalam kasus hepatitis kronis, gejala bisa tidak muncul sampai terjadi kerusakan hati berat seperti gagal hati. Pada tahap lanjut, hepatitis kronis bisa menimbulkan pembengkakan di tungkai, bingung, serta adanya darah pada tinja atau muntah.19 Seperti yang sudah dijelaskan di atas, setiap penyebab hepatitis memiliki ciri khas gejala dan tandanya masing-masing. Bahkan cara penularannya pun bisa berbeda-beda, seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini.19
| Jenis Hepatitis | Penyebab | Cara Penularan | Lama Penyakit | Gejala | Risiko Komplikasi | Vaksin |
| Hepatitis A | Virus Hepatitis A | Makanan/minuman terkontaminasi feses | Akut (sementara) | Mirip flu, mual, jaundice | Jarang menyebabkan komplikasi serius | Ada |
| Hepatitis B | Virus Hepatitis B | Darah, hubungan seksual, dari ibu ke anak | Akut atau kronis | Kadang tanpa gejala, bisa jaundice | Sirosis, kanker hati | Ada |
| Hepatitis C | Virus Hepatitis C | Darah (jarum suntik, transfusi) | Kronis (sering) | Biasanya tanpa gejala awal | Sirosis, gagal hati | Tidak ada |
| Hepatitis D | Virus Hepatitis D (co-infeksi dengan Hep B) | Darah, hubungan seksual | Kronis | Serupa Hep B | Sirosis, kanker hati (risiko lebih tinggi) | Tidak ada |
| Hepatitis E | Virus Hepatitis E | Makanan/minuman terkontaminasi | Akut | Ringan, bisa jaundice | Bisa serius pada ibu hamil atau imunokompromais | Tidak ada |
| Hepatitis Alkoholik | Konsumsi alkohol berlebih | Tidak menular | Kronis | Tidak bergejala atau jaundice mendadak | Sirosis, kanker hati | Tidak ada |
| Autoimun Hepatitis | Autoimun (sistem imun menyerang hati) | Tidak menular | Kronis | Tidak selalu tampak, jaundice, kelelahan | Gagal hati | Tidak ada |
Bagaimana cara mencegah supaya tidak terkena hepatitis?
Organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan pencegahan hepatitis, khususnya yang disebabkan oleh virus hepatitis A, B, C, D, dan E, dilakukan melalui berbagai upaya yang disesuaikan dengan jalur penularan masing-masing virus. Hepatitis A dan E umumnya menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi, sehingga pencegahan utamanya meliputi peningkatan sanitasi, akses terhadap air bersih, serta praktik cuci tangan yang benar sebelum makanan. Vaksinasi terhadap hepatitis A juga direkomendasikan pada kelompok tertentu, dan meskipun vaksin hepatitis E telah dikembangkan di Tiongkok, distribusinya masih terbatas secara global.20
Untuk hepatitis B, C, dan D, yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh (seperti penggunaan jarum suntik tidak steril, transfusi darah, serta dari ibu ke anak), strategi pencegahan mencakup vaksinasi hepatitis B, yang juga dapat mencegah infeksi hepatitis D. Pencegahan penularan dari ibu ke bayi sangat penting, begitu pula penerapan keamanan dalam prosedur medis seperti penggunaan alat suntik dan operasi yang steril. Selain itu, edukasi dan layanan pengurangan risiko bagi pengguna narkoba suntik juga diperlukan.20
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan vaksin hepatitis B monovalen untuk diberikan secara intramuskular kepada bayi segera setelah lahir, idealnya dalam waktu kurang dari 24 jam, dengan syarat vitamin K1 telah disuntikkan setidaknya 30 menit sebelumnya. Bagi bayi dengan berat lahir di bawah 2000 gram, pemberian vaksin hepatitis B sebaiknya ditunda hingga usia mencapai 1 bulan atau saat bayi dipulangkan dari rumah sakit, kecuali jika bayi tersebut lahir dari ibu yang positif HBsAg dan dalam kondisi sehat—dalam kasus ini, vaksin HB tetap diberikan segera setelah lahir. Untuk bayi dari ibu HBsAg positif, vaksin hepatitis B dan imunoglobulin hepatitis B (HBIg) harus diberikan sesegera mungkin, dalam waktu 24 jam setelah kelahiran, pada lokasi suntikan paha yang berbeda, tanpa memperhitungkan berat badan bayi. Efektivitas HBIg menurun jika diberikan lebih dari 48 jam setelah lahir, tetapi masih dapat diberikan hingga 7 hari pasca kelahiran bila terlambat. Pemeriksaan kadar anti-HBs dan HBsAg pada bayi perlu dilakukan saat usia 9–12 bulan, atau 1–2 bulan setelah pemberian dosis terakhir jika vaksinasi terlambat. Vaksin hepatitis A diberikan secara intramuskular mulai usia 12 bulan, dengan dua dosis yang disuntikkan dengan jarak waktu antara 6 hingga 18 bulan.21

Gambar 1. Rekomendasi IDAI untuk Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun
Untuk populasi usia dewasa, Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) merekomendasikan vaksinasi hepatitis A untuk seluruh individu. Namun, perhatian lebih perlu diberikan kepada kelompok tertentu seperti traveller dan pekerja yang menangani makanan, karena risiko penularan yang lebih tinggi. Untuk hepatitis B, vaksinasi dianjurkan bagi semua orang dewasa tanpa terkecuali, dengan pemeriksaan HBsAg yang sebaiknya dilakukan sebelum imunisasi. Vaksin ini sangat penting diberikan kepada kelompok dengan risiko tinggi, termasuk tenaga medis, pengguna narkoba, individu dengan pasangan seksual berganti-ganti, penderita gangguan imun, pasien penyakit ginjal kronik, serta mereka yang menerima transfusi darah atau hemodialisis. Khusus untuk pasien hemodialisis, vaksin diberikan sebanyak dua kali lipat (2 x 20 µg/mL) pada bulan ke-0, ke-1, dan ke-6. Jika seseorang tidak menunjukkan respon imun yang baik setelah vaksinasi lengkap, maka pemberian dosis tambahan atau booster dianjurkan. Pada individu dengan gangguan imun, kadar antibodi anti-HBs dievaluasi setelah vaksinasi, terutama jika kadar awalnya <10 mIU/mL. Pemeriksaan ulang antibodi disarankan 1–2 bulan setelah vaksinasi terakhir. Bila kadar antibodi ≥10 mIU/mL, artinya vaksinasi berhasil; jika tidak, mungkin diperlukan pengulangan dosis karena kesalahan pemberian atau respon imun yang lemah.22
Tersedia pula vaksin kombinasi hepatitis A dan B, yang selain lebih ekonomis, juga meningkatkan cakupan imunisasi karena dapat melindungi dari dua jenis virus sekaligus dalam satu suntikan. Selain itu, vaksin kombinasi Hepatitis A dan Typhoid dapat diberikan sebagai dosis awal. Untuk dosis lanjutan, keduanya diberikan terpisah mengikuti jadwal masing-masing, yakni Hepatitis A antara bulan ke-6 hingga ke-12, dan vaksin typhoid diulang setiap tiga tahun.22

Gambar 2. Rekomendasi PAPDI untuk Jadwal Imunisasi Dewasa
Pencegahan hepatitis C dan B melalui hubungan seksual dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku seksual yang aman, seperti penggunaan kondom, terutama pada kelompok populasi berisiko tinggi. Di samping itu, pengobatan hepatitis B dan C kronis juga menjadi bagian dari pencegahan sekunder dan tersier untuk mencegah komplikasi lanjut seperti sirosis dan kanker hati.20 Secara umum, hepatoprotektor tidak disarankan untuk dikonsumsi secara rutin oleh orang dewasa yang sehat. Meskipun beberapa orang dengan gangguan hati mungkin memperoleh manfaat dari penggunaan agen pelindung hati tertentu, hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa individu sehat memerlukannya untuk menjaga kesehatan hati secara umum.
Apakah hepatitis bisa sembuh?
Menurut WHO, Hepatitis A biasanya bersifat ringan dan akan sembuh dengan sendirinya, di mana sebagian besar penderitanya pulih sepenuhnya. Setelah terinfeksi, individu akan memiliki kekebalan seumur hidup terhadap virus ini.23 Sedangkan hepatitis B dapat berkembang menjadi infeksi kronis pada sebagian penderita. Infeksi kronis ini meningkatkan risiko terjadinya sirosis dan kanker hati (hepatoseluler). Gagal hati akut bisa terjadi, meskipun jarang (sekitar 0,5% hingga 1% kasus). Terapi antivirus dapat memperbaiki kondisi hati dan meningkatkan harapan hidup jangka panjang, meskipun pencapaian kesembuhan fungsional (hilangnya HBsAg) masih jarang terjadi. Tanpa pengobatan, penderita sirosis akibat HBV yang mengalami dekompensasi memiliki angka kelangsungan hidup 5 tahun yang rendah.24
Hepatitis C dapat berkembang menjadi infeksi kronis pada sekitar 50% hingga 60% kasus. Infeksi kronis ini juga meningkatkan kemungkinan terjadinya sirosis dan kanker hati.25 Namun, pengobatan dengan antivirus langsung telah secara signifikan meningkatkan hasil terapi, bahkan memungkinkan penghapusan virus secara total.26 Hepatitis D cenderung menyebabkan penyakit yang lebih berat dibandingkan infeksi hepatitis tunggal. Virus ini hanya dapat berkembang jika virus hepatitis B sudah ada dalam tubuh. 25,26 Hepatitis E umumnya menyerupai hepatitis A, bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri. Namun, pada ibu hamil, infeksi ini bisa berakibat fatal dengan angka kematian yang tinggi, yaitu antara 15% hingga 25%.25
Penulis : dr. Agil Wahyu Wicaksono, M.Biomed (Dokter Umum Klinik IPB)
REFERENSI
- World Health Organization. Hepatitis [Internet]. Health Topic. 2025. Available from: https://www.who.int/health-topics/hepatitis#tab=tab_1
- Kemenkes. Survei Kesehatan Indonesia (SKI). Kemenkes. 2023. 235 p.
- Reuben A. The thin red line. Hepatology. 2002;36(3):770–3. Available from: https://doi.org/10.1002/hep.510360341
- Pisano MB, Giadans CG, Flichman DM, Ré VE, Preciado M V, Valva P. Viral hepatitis update: Progress and perspectives. World J Gastroenterol. 2021;27(26):4018–44.
- Schmid R. History of viral hepatitis: A tale of dogmas and misinterpretations. J Gastroenterol Hepatol. 2001;16(7):718–22. Available from: https://doi.org/10.1046/j.1440-1746.2001.02509.x
- Seeff LB, Beebe GW, Hoofnagle JH, Norman JE, Buskell-Bales Z, Waggoner JG, et al. A serologic follow-up of the 1942 epidemic of post-vaccination hepatitis in the United States Army. N Engl J Med. 1987;316(16):965–70.
- Blumberg BS, Gerstley BJ, Hungerford DA, London WT, Sutnick AI. A serum antigen (Australia antigen) in Down’s syndrome, leukemia, and hepatitis. Ann Intern Med. 1967;66(5):924–31.
- BLUMBERG BS, ALTER HJ, VISNICH S. A “NEW” ANTIGEN IN LEUKEMIA SERA. JAMA. 1965;191:541–6.
- Feinstone SM, Kapikian AZ, Purceli RH. Hepatitis A: detection by immune electron microscopy of a viruslike antigen associated with acute illness. Science. 1973;182(4116):1026–8.
- Rizzetto M, Canese MG, Aricò S, Crivelli O, Trepo C, Bonino F, et al. Immunofluorescence detection of new antigen-antibody system (delta/anti-delta) associated to hepatitis B virus in liver and in serum of HBsAg carriers. Gut. 1977;18(12):997–1003.
- Rizzetto M. Hepatitis delta: the virus and the disease. J Hepatol. 1990;11 Suppl 1:S145-8.
- Choo QL, Kuo G, Weiner AJ, Overby LR, Bradley DW, Houghton M. Isolation of a cDNA clone derived from a blood-borne non-A, non-B viral hepatitis genome. Science. 1989;244(4902):359–62.
- Reyes GR, Purdy MA, Kim JP, Luk KC, Young LM, Fry KE, et al. Isolation of a cDNA from the virus responsible for enterically transmitted non-A, non-B hepatitis. Science. 1990;247(4948):1335–9.
- Blumberg BS. The curiosities of hepatitis B virus: prevention, sex ratio, and demography. Proc Am Thorac Soc. 2006;3(1):14–20.
- Krugman S. Experiments at the Willowbrook State School. Lancet (London, England). 1971;1(7706):966–7.
- Fonseca JCF. Eradication of Hepatitis B virus infection in the State of Amazonas – 2007. Newsletter of World Gastroenterology Organization. 2007. p. 1–2.
- Simons JN, Leary TP, Dawson GJ, Pilot-Matias TJ, Muerhoff AS, Schlauder GG, et al. Isolation of novel virus-like sequences associated with human hepatitis. Nat Med. 1995;1(6):564–9.
- Yeh C-T, Tsao M-L, Lin Y-C, Tseng I-C. Identification of a novel single-stranded DNA fragment associated with human hepatitis. J Infect Dis. 2006;193(8):1089–97.
- National Health Service. Hepatitis [Internet]. Health A to Z. 2025. Available from: https://www.nhs.uk/conditions/hepatitis/
- World Health Organization. Prevention [Internet]. Global Hepatitis Programme. 2025. Available from: https://www.who.int/teams/global-hiv-hepatitis-and-stis-programmes/hepatitis/prevention
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun, Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2024 [Internet]. Rekomendasi. 2025. Available from: https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/jadwal-imunisasi-anak-usia-0-18-tahun
- Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI. Jadwal Imunisasi Dewasa [Internet]. 2025. Available from: https://satgasimunisasipapdi.com/jadwal-imunisasi-dewasa/
- World Health Organization. Hepatitis A [Internet]. Fact Sheet. 2025. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hepatitis-a#:~:text=The hepatitis A virus (HAV,A with a lifelong immunity.
- Odenwald MA, Paul S. Viral hepatitis: Past, present, and future. World J Gastroenterol. 2022;28(14):1405–29.
- Grant LM, Purres M. Viral Hepatitis. In Treasure Island (FL); 2025.
- González Grande R, Santaella Leiva I, López Ortega S, Jiménez Pérez M. Present and future management of viral hepatitis. World J Gastroenterol. 2021;27(47):8081–102.
# HEPATITIS ITU SAKIT HATI?