Malaria: Ancaman Kesehatan yang Masih Relevan di Era Modern

Malaria: Ancaman Kesehatan yang Masih Relevan di Era Modern
Malaria merupakan salah satu penyebab utama penyakit dan kematian di penjuru dunia. Di Indonesia, malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat serius yang dijumpai di berbagai wilayah. Risiko terjadinya malaria dipengaruhi banyak faktor, terutama jenis spesies nyamuk Anopheles, sikap manusia, serta faktor lingkungan tempat tinggal. Perubahan pada salah satu determinan tersebut dapat meningkatkan risiko transmisi malaria secara signifikan.
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Dari lima spesies parasit malaria yang dapat menginfeksi manusia, Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax merupakan penyebab utama malaria, dengan Plasmodium falciparum bertanggung jawab atas sebagian besar kematian terkait malaria.
Secara global, menurut World Health Organization pada tahun 2020 mencatat sekitar 241 juta kasus malaria dan 627.000 kematian akibat malaria di seluruh dunia pada tahun 2020. Pada tahun 2021, kasus malaria sekitar 247 juta kasus malaria, dengan 619.000 kematian dan mengalami peningkatan pada tahun 2022 sekitar 249 juta kasus malaria dan 608.000 kematian akibat malaria di 85 negara.
Di Asia, kasus malaria terus menjadi ancaman, khususnya di wilayah Asia Tenggara. Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia sendiri mencatat kasus malaria pada tahun 2020 sebanyak 235.700 kasus positif malaria, sedangkan tahun 2021 sebanyak 304.607 kasus malaria dan kejadian malaria meningkat di Indonesia pada tahun 2022 sebanyak 443.530 kasus, disisi lain kasus terkonfirmasi malaria sebenarnya mengalami penurunan pada 2023 dengan 418.546 kasus. Peningkatan kasus yang signifikan pada tahun 2022 menunjukkan bahwa pengendalian malaria di Indonesia masih menghadapi tantangan, khususnya di wilayah endemis dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.
Gejala malaria
Gejala khas malaria dikenal sebagai “trias malaria”, yang terdiri dari tiga fase, yaitu:
- Fase dingin, ditandai dengan menggigil hebat selama 15–60 menit.
- Fase panas, ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, wajah kemerahan, dan denyut nadi cepat.
- Fase berkeringat, ditandai dengan penurunan suhu tubuh dan keluarnya keringat berlebih.
Setelah fase tersebut, pasien umumnya mengalami perbaikan sementara. Pemahaman terhadap gejala klinis ini penting sebagai dasar dalam menentukan penanganan yang tepat untuk menurunkan angka mortalitas.
Pengobatan malaria
Pengobatan malaria saat ini umumnya menggunakan terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT), yang terbukti efektif dalam mengatasi infeksi. Namun, munculnya resistensi obat menjadi tantangan baru dalam pengendalian malaria.
Pencegahan malaria
Dari sisi pencegahan, beberapa strategi yang terbukti efektif antara lain:
- Penggunaan kelambu berinsektisida
- Penyemprotan insektisida di dalam ruangan
- Pengelolaan lingkungan untuk mengurangi tempat berkembang biak nyamuk
- Edukasi masyarakat mengenai perilaku hidup bersih
Selain itu, telah dilakukan beberapa inovasi seperti pengembangan vaksin malaria menjadi penting dalam jangka panjang, meskipun efektivitasnya masih terus dikaji. Diagnosis malaria secara dini dapat dilakukan menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT) untuk memastikan penanganan yang tepat. Penanganannya memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup pengobatan, pencegahan, serta dukungan kebijakan yang kuat. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam upaya menuju eliminasi malaria.
Malaria telah menginfeksi lebih dari 90 negara di dunia dan memberikan dampak yang luas, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi. Tingginya angka kasus malaria berkorelasi dengan rendahnya kualitas sanitasi, pendidikan, dan akses terhadap layanan kesehatan. Secara ekonomi, malaria menyebabkan penurunan produktivitas tenaga kerja serta meningkatkan beban biaya kesehatan, baik pada tingkat rumah tangga maupun nasional. Malaria tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada produktivitas ekonomi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa malaria dapat:
- Menurunkan kapasitas kerja
- Meningkatkan biaya kesehatan rumah tangga
- Menghambat perkembangan kognitif anak
Temuan ini menegaskan bahwa dampak malaria tidak hanya terbatas pada aspek kesehatan, tetapi juga memengaruhi produktivitas dan kualitas sumber daya manusia. Dengan demikian, malaria tetap menjadi ancaman kesehatan global yang kompleks dan multidimensional. Meskipun berbagai intervensi telah menunjukkan kemajuan signifikan, tantangan seperti resistensi obat dan perubahan iklim terus menghambat pencapaian target eliminasi. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengendalian yang adaptif, berbasis bukti, dan terintegrasi lintas sektor untuk memastikan upaya eliminasi malaria dapat berjalan secara berkelanjutan.
Mari mulai dari langkah sederhana. Jaga kebersihan lingkungan, hindari genangan air, gunakan kelambu atau pelindung diri dan segera periksa jika muncul gejala. Kebiasaan kecil yang dilakukan bersama, dapat melindungi diri dan orang-orang terdekat dari malaria.
Hidup sehat, lingkungan aman, dan masa depan pun lebih cerah.
Penulis: Okta Kamilatul Huda, S.Farm (Tenaga Teknis Kefarmasian di Klinik IPB Dramaga)
Referensi:
Rustam, Musfardi, dkk. 2025. Promosi Kesehatan dan Internalisasi Konsep Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengendalian Kejadian Luar Biasa (KLB) Malaria Di Desa Kuala Selat Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau Tahun 2024. Jurnal Pengabdian Kesehatan Komunitas (Journal of Community Health Service), Volume 05, Nomor 01.
Wasiyem, Hutri Agustina Br Ginting, Zahratul Ulya, Selvia Lubis, dkk. 2025. Analisis Faktor Risiko dan Upaya Pencegahan Malaria di Kecamatan Medan Labuhan. Jurnal Kolaboratif Sains, Volume 8 No. 3, Maret 2025, 1428-1436.
Edgar, David. 2022. Faktor Kondisi Fisik Rumah Yang Berhubungan Dengan Kejadian Malaria. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 4 No 1, Februari 2022.
World Health Organization (WHO). 2021. Laporan Malaria Dunia 2021.
World Health Organization (WHO). 2022. Laporan Malaria Dunia 2022.
World Health Organization (WHO). 2023. Laporan Malaria Dunia 2023.
World Health Organization (WHO). 2023. Percepatan Eliminasi Malaria di Indonesia: Revisi Rencana Aksi dan Menjembatani Kesenjangan.
Mahdi, M. Ivan. 2022. Indonesia Alami 304.607 Kasus Malaria Pada 2021 melalui https://dataindonesia.id/kesehatan/detail/indonesia-alami-304607-kasus-malaria-pada-2021 diakses pada 19 April 2026.
Kementerian Kesehatan RI. 2024. Cegah dan Kendalikan Malaria melalui https://kemkes.go.id/id/cegah-dan-kendalikan-malaria diakses pada 19 April 2026.
Kementerian Kesehatan RI. 2024. Kemenkes Luncurkan Peta Jalan Eliminasi Malaria dan Pencegahan Penularan Kembali di Indonesia melalui https://kemkes.go.id/id/kemenkes-luncurkan-peta-jalan-eliminasi-malaria-dan-pencegahan-penularan-kembali-di-indonesia diakses pada 19 April 2026.