Blog

Mengenal Kalkulus Gigi Lebih Dekat

Artikel Kesehatan

Mengenal Kalkulus Gigi Lebih Dekat

Kalkulus gigi atau yang lebih populer dengan sebutan karang gigi adalah lapisan plak termineralisasi yang mengeras pada permukaan gigi maupun area di bawah garis gusi. Berbeda dengan plak halus yang bisa dibersihkan dengan menyikat gigi biasa, kalkulus memiliki struktur keras seperti batu yang merekat kuat pada email gigi dan hanya bisa dibersihkan oleh tenaga medis profesional.

Klasifikasi Kalkulus Gigi

  • Kalkulus Supragingival : Terletak di atas garis tepi gusi. Berwarna kuning muda atau putih krem dengan konsistensi agak keras.
  • Kalkulus Subgingival : Terletak di bawah garis gusi (dalam kantong gusi). Berwarna cokelat tua atau hitam akibat pigmen darah. Sangat keras, padat, dan menjadi penyebab utama kerusakan tulang penyangga gigi.

Penyebab Terbentuknya Kalkulus Gigi

Kalkulus gigi (karang gigi) terbentuk dari plak gigi yang mengeras dan mengalami mineralisasi. Plak sendiri adalah lapisan tipis, lengket, dan tidak berwarna yang berisi bakteri serta sisa makanan yang menempel pada permukaan gigi.

Berikut adalah faktor utama yang menyebabkan terbentuknya kalkulus gigi:

  • Penumpukan Plak yang Tidak Dibersihkan: Jika plak tidak dibersihkan secara berkala melalui sikat gigi dan dental floss, plak akan mengendap dan bereaksi dengan mineral di dalam mulut.
  • Mineralisasi dari Air Liur (Saliva): Air liur secara alami mengandung mineral seperti kalsium dan fosfat. Ketika mineral ini berinteraksi dengan plak dalam jangka waktu 24–72 jam, plak mulai mengeras menjadi karang gigi yang keras dan tidak bisa hilang hanya dengan sikat gigi biasa.
  • Kebersihan Mulut yang Kurang Baik: Jarang menyikat gigi (minimal 2 kali sehari) atau teknik menyikat gigi yang kurang tepat membuat plak menumpuk di area yang sulit dijangkau, seperti sela-sela gigi dan batas gusi.
  • Pola Makan Tinggi Gula dan Karbohidrat: Makanan manis dan karbohidrat olahan menyediakan suplai energi utama bagi bakteri dalam plak untuk berkembang pesat dan menghasilkan asam.
  • Kebiasaan Merokok: Zat kimia dalam rokok mempercepat pembentukan plak dan memicu penumpukan karang gigi lebih cepat.

Bahaya Kalkulus Gigi yang Dibiarkan

Kalkulus gigi yang membandel tidak bisa dibersihkan hanya dengan sikat gigi biasa. Jika terus dibiarkan tanpa penanganan medis (scaling), penumpukan karang gigi ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan mulut dan tubuh secara keseluruhan:

  • Radang Gusi (Gingivitis): Bakteri pada kalkulus terus mengeluarkan racun yang mengiritasi gusi. Efeknya, gusi menjadi merah, bengkak, sensitif, dan mudah berdarah saat menyikat gigi.
  • Periodontitis: Jika gingivitis dibiarkan, infeksi akan merusak jaringan lunak dan tulang penyangga gigi. Akibatnya, kantong infeksi terbentuk di antara gusi dan gigi, memicu penyusutan gusi (gum recession).
  • Gigi Goyang hingga Tanggal: Akibat kerusakan tulang alveolar yang menopang akar gigi, gigi perlahan kehilangan tumpuannya, menjadi goyang, dan akhirnya harus dicabut atau lepas sendiri.
  • Bau Mulut Kronis (Halitosis): Kalkulus menjadi sarang ideal bagi bakteri anaerob untuk berkembang biak dan menghasilkan senyawa sulfur yang berbau menyengat.
  • Gigi Berlubang (Karies): Karang gigi menyulitkan pembersihan sela-sela gigi. Asam dari plak di sekitar kalkulus dapat mengikis lapisan email dan merusak struktur gigi.
  • Risiko Penyakit Sistemik: Bakteri dari infeksi gusi berat dapat masuk ke pembuluh darah dan memicu respons peradangan sistemik, yang berisiko meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga mempersulit kontrol gula darah pada penderita diabetes.

Cara Pencegahan dan Perawatan

Penanganan kalkulus gigi terbagi menjadi dua tahap utama: perawatan medis untuk membersihkan karang gigi yang sudah mengeras, dan pencegahan mandiri untuk mencegah timbulnya karang gigi baru.

Perawatan Medis (Menghilangkan Kalkulus)

Kalkulus yang sudah mengeras tidak dapat dibersihkan sendiri di rumah menggunakan sikat gigi atau bahan alami. Pembersihan harus dilakukan oleh dokter gigi melalui prosedur medis:

  • Scaling Gigi: Dokter gigi menggunakan alat khusus bernama ultrasonic scaler yang menghasilkan getaran halus dan semprotan air untuk menghancurkan serta melepaskan karang gigi tanpa merusak enamel.
  • Root Planing: Jika kalkulus sudah masuk ke bawah garis gusi (subgingival) dan menyebabkan periodontitis, tindakan pembersihan mendalam dilakukan untuk menghaluskan permukaan akar gigi agar gusi dapat melekat kembali secara sehat.

Cara Pencegahan Mandiri

  • Sikat Gigi Rutin & Benar: Menyikat gigi minimal 2 kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur) selama 2 menit. Gunakan teknik menyikat dari arah gusi ke gigi untuk membersihkan batas gusi.
  • Gunakan Pasta Gigi Mengandung Fluoride: Fluoride membantu memperkuat lapisan enamel gigi dan menghambat pertumbuhan bakteri asam.
  • Flossing (Benang Gigi): Gunakan benang gigi sekali sehari untuk membersihkan plak dan sisa makanan di sela-sela gigi yang tidak terjangkau oleh bulu sikat.
  • Obat Kumur Antiseptik: Pembilasan dengan mouthwash membantu mengurangi populasi bakteri pembuat plak di area mulut.
  • Batasi Makanan Manis: Kurangi konsumsi gula dan karbohidrat olahan yang memicu pertumbuhan bakteri.
  • Hentikan Kebiasaan Merokok: Menghindari produk tembakau membantu menjaga ekosistem mulut dan mencegah pembentukan karang gigi yang lebih cepat.
  • Kontrol Rutin ke Dokter Gigi: Lakukan pemeriksaan gigi dan scaling berkala setiap 6 bulan sekali.

Penulis : drg. Dwi Nuzul Haida Meirani (Dokter Gigi Klianik IPB Dramaga)

Referensi :

  • American Dental Association. (2021). Dental Calculus (Tartar). ADA MouthHealthy. https://www.mouthhealthy.org
  • Akcalı, A., & Lang, N. P. (2018). Dental calculus: new insights into occurrence, formation, and clinical relevance. Periodontology 2000, 76(1), 243–255.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer Kemenkes RI.
  • Jepsen, S., Suvan, J., & Deschner, J. (2020). The role of calculus in periodontitis and standard non-surgical periodontal therapy. Periodontology 2000, 84(1), 85–94.
  • Newman, M. G., Takei, H., Klokkevold, P. R., & Carranza, F. A. (2019). Carranza’s Clinical Periodontology (13th ed.). Elsevier.
  • World Health Organization. (2022). Global oral health status report: Towards universal health coverage for oral health by 2030. World Health Organization.

#KalkulusGigi

#HariKesehatanGigidanMulut

#KlinikIPBDramaga

 

 

 

 

Recent Posts

Categories