Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) adalah kelompok penyakit paru-paru kronis yang ditandai oleh hambatan aliran udara yang bersifat persisten dan progresif, yaitu saluran pernapasan dan jaringan paru mengalami kerusakan sehingga aliran udara keluar masuk terganggu. PPOK bersifat tidak sepenuhnya dapat dibalik (non-reversible) atau hanya sebagian dapat diperbaiki aliran napasnya.
Epidemiologi
Menurut World Health Organization (WHO), COPD adalah penyebab kematian jutaan orang per tahun. Sebagian besar kematian akibat COPD terjadi di negara berkembang dan negara berpenghasilan menengah. Di Indonesia, PPOK juga diakui sebagai salah satu penyakit paru kronis yang menjadi perhatian kesehatan publik.
Penyebab & Faktor Risiko
PPOK berkembang ketika paru-paru mengalami kerusakan jangka panjang akibat berbagai paparan dan kondisi risiko, antara lain:
- Kebiasaan merokok aktif maupun paparan asap rokok (perokok pasif) merupakan faktor utama.
- Paparan polusi udara dalam ruangan maupun luar ruangan, termasuk asap bahan bakar biomassa, debu industri, asap kendaraan.
- Paparan debu, asap, dan bahan kimia di tempat kerja (seperti industri, tambang, pabrik).
- Faktor genetik, misalnya defisiensi protein Alpha‑1‑Antitripsin (AAT) yang dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap PPOK.
- Riwayat infeksi saluran pernapasan kronis dan asma juga dapat meningkatkan risiko.
Gejala & Tanda
Gejala PPOK biasanya berkembang perlahan dan bisa tidak begitu terasa pada tahap awal. Beberapa gejala umum:
- Batuk kronis, sering dengan dahak (lendir) yang berlangsung lama.
- Sesak napas atau merasa “kesulitan bernafas”, terutama ketika aktivitas fisik atau naik tangga.
- Mengi (wheezing) atau suara napas yang “bernapas berat”.
- Penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari karena keterbatasan napas.
- Adanya periode “exacerbasi” atau memburuknya gejala yang kadang memerlukan perawatan tambahan.
Patofisiologi
Pada PPOK, beberapa perubahan struktural dan fungsional terjadi di paru:
- Kerusakan dinding alveoli (kantung udara kecil) sehingga hilangnya elastisitas paru dan pertukaran gas terganggu (emosfisema).
- Peradangan kronis dan produksi lendir berlebih di saluran bronkial, yang menyebabkan penyempitan dan hambatan aliran udara (bronkitis kronis).
- Akibatnya udara terperangkap dalam paru saat penghembusan, dan saluran napas kecil dapat runtuh atau menyempit.
Komplikasi
PPOK dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, antara lain:
- Infeksi saluran napas berulang (flu, pneumonia) karena daya tahan menurun.
- Penyakit jantung atau masalah kardiovaskular lainnya.
- Kanker paru-paru.
- Hipertensi pulmonal (tekanan darah tinggi di pembuluh darah paru) dan gagal jantung kanan.
- Penurunan kualitas hidup, kecemasan dan depresi karena keterbatasan fisik.
Diagnosa
Diagnosa PPOK biasanya melibatkan:
- Spirometri: pemeriksaan fungsi paru untuk mengukur aliran udara dan fungsi pengeluaran udara. (misalnya rasio FEV1/FVC)
- Riwayat klinis dan paparan faktor risiko (merokok, polusi, pekerjaan)
- Pemeriksaan fisik dan kadang radiologi paru (Xray/CT) untuk melihat kerusakan paru
- Pemeriksaan α-1-antitripsin apabila dicurigai faktor genetik
Pengobatan & Penatalaksanaan
Meskipun PPOK tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, terdapat berbagai langkah pengelolaan yang dapat memperlambat progres dan meningkatkan kualitas hidup:
- Berhenti merokok adalah langkah paling penting.
- Menghindari paparan polusi udara dan zat iritan.
- Penggunaan obat-obatan: bronkodilator, steroid inhalasi, pengobatan eksaserbasi.
- Rehabilitasi paru (latihan pernapasan, aktivitas fisik terkontrol) untuk meningkatkan kapasitas fungsional.
- Vaksinasi (misalnya influenza, pneumonia) untuk mencegah infeksi yang memperburuk kondisi.
- Terapi oksigen jangka panjang dan ventilasi non-invasif pada tahap lanjut.
- Manajemen komorbiditas (penyakit jantung, osteoporosis, depresi)
Pencegahan
Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan:
- Hindari merokok atau berhenti bila sudah merokok.
- Kurangi paparan asap, polusi udara, debu industri, tempat kerja yang berisiko.
- Gunakan alat pelindung diri bila bekerja di lingkungan berdebu/berasap.
- Terapkan pola hidup sehat: olahraga, nutrisi baik, tidur cukup.
- Pastikan mendapatkan vaksinasi yang sesuai.
- Edukasi diri dan lingkungan tentang gejala awal dan faktor risiko.
Kesimpulan
PPOK adalah kondisi kronis yang serius, aliran udara tehambat di paru dan berdampak besar pada kemampuan bernafas dan kualitas hidup. Meskipun tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, dengan identifikasi dini, perubahan gaya hidup, dan pengelolaan yang tepat, progresi penyakit dapat diperlambat dan komplikasi dapat dikurangi. Penting untuk menyadari faktor risiko dan gejala awal agar penanganan bisa lebih optimal.
Penulis: dr.Vini Chumaira (Dokter Umum di Klinik IPB Dramaga)
Referensi:
- World Health Organization. Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) – Fact sheet. 6 November 2024.
- World Health Organization. Smoking is the leading cause of chronic obstructive pulmonary disease. 15 November 2023.
- Mayo Clinic. COPD – Symptoms and causes.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
- AyoSehat (Kemkes). Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
- RS Universitas Indonesia. PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis). 31 Januari 2023.
- Hartina, S., Wahiduddin, W., et al. Faktor Risiko Kejadian Penyakit Paru Obstruktif Kronik pada Pasien RSUD Kota Makassar. Hasanuddin Journal of Public Health.