Hari Rabies Sedunia: Kenali Rabies, Gejala, dan Cara Mencegahnya

Hari Rabies Sedunia: Kenali Rabies, Gejala, dan Cara Mencegahnya
# Hari Rabies Sedunia: Kenali Rabies, Gejala, dan Cara Mencegahnya
Hari Rabies Sedunia diperingati setiap tanggal 28 September sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai rabies, penyakit zoonosis yang dapat dicegah tetapi masih menyebabkan kematian di berbagai negara.
Rabies merupakan penyakit infeksi virus yang menyerang sistem saraf pusat. Penyakit ini terutama ditularkan melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi. Meskipun rabies dapat dicegah dengan penanganan yang tepat setelah pajanan, setelah gejala klinis muncul, rabies hampir selalu berakibat fatal. Karena itu, mengenali risiko dan melakukan pertolongan pertama setelah gigitan hewan sangat penting. [1,2]
Apa Itu Rabies?
Rabies adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus. Virus ini dapat menginfeksi sistem saraf dan pada akhirnya menyebabkan ensefalitis atau gangguan neurologis berat.
Rabies masih menjadi masalah kesehatan masyarakat terutama di Asia dan Afrika. Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 99% kasus rabies pada manusia berasal dari penularan melalui anjing, sehingga pengendalian rabies pada populasi anjing merupakan salah satu strategi utama untuk mencegah kematian manusia. [1]
Secara global, rabies menyebabkan puluhan ribu kematian setiap tahun dan anak-anak merupakan salah satu kelompok yang sangat rentan. [1]
Bagaimana Rabies Menular?
Virus rabies terdapat dalam air liur hewan yang terinfeksi. Penularan pada manusia terutama terjadi ketika air liur tersebut masuk melalui:
- gigitan hewan;
- cakaran yang terkontaminasi air liur;
- luka terbuka yang terkena air liur hewan terinfeksi; atau
- selaput lendir, seperti mata atau mulut, yang terkena air liur.
Anjing merupakan sumber utama penularan rabies pada manusia secara global. Namun, mamalia lain juga dapat menjadi sumber pajanan tergantung pada epidemiologi rabies di wilayah tersebut. [1,3]
Menyentuh atau membelai hewan tanpa adanya pajanan air liur ke luka atau selaput lendir tidak termasuk pajanan rabies. WHO mengategorikan kontak dengan hewan pada kulit yang masih utuh sebagai kategori I, yang tidak memerlukan post-exposure prophylaxis (PEP). [1]
Apa Saja Gejala Rabies?
Masa inkubasi rabies dapat bervariasi. Pada fase awal, gejala dapat tidak spesifik sehingga terkadang menyerupai penyakit infeksi lainnya.
Gejala awal dapat meliputi:
- demam;
- sakit kepala;
- lemas;
- rasa tidak nyaman atau nyeri;
- kesemutan;
- rasa terbakar atau sensasi abnormal pada lokasi bekas gigitan.
Setelah virus mencapai sistem saraf pusat, dapat muncul gejala neurologis yang lebih berat seperti:
- kecemasan atau agitasi;
- kebingungan;
- halusinasi;
- sulit menelan;
- hipersalivasi;
- kejang;
- hidrofobia;
- aerofobia;
- kelumpuhan; dan
- penurunan kesadaran hingga koma.
Rabies dapat muncul dalam bentuk furious rabies dengan agitasi dan gangguan neurologis yang menonjol maupun bentuk paralitik yang terutama ditandai dengan kelemahan dan kelumpuhan. [1,4]
Apa yang Dimaksud dengan Hidrofobia?
Salah satu gejala yang paling dikenal pada rabies adalah hidrofobia atau “takut air”.
Namun, istilah tersebut sebenarnya menggambarkan kondisi neurologis yang menyebabkan spasme otot menelan ketika pasien mencoba minum atau bahkan ketika melihat atau memikirkan air. Kondisi ini bukan sekadar rasa takut terhadap air, melainkan manifestasi penyakit pada sistem saraf pusat. [1,4]
Apa yang Harus Dilakukan Jika Digigit atau Dicakar Hewan?
Jika seseorang mengalami gigitan atau cakaran dari hewan yang berpotensi terinfeksi rabies, jangan menunggu munculnya gejala.
Tindakan pertama yang harus dilakukan adalah:
- Segera cuci luka selama minimal 15 menit
Luka harus segera dicuci menggunakan air mengalir dan sabun atau deterjen selama sekitar 15 menit.
Pembersihan luka merupakan bagian penting dari post-exposure prophylaxis karena membantu mengurangi kontaminasi virus pada lokasi pajanan. [1,5]
- Gunakan antiseptik setelah pencucian
Setelah luka dicuci secara menyeluruh, antiseptik yang sesuai, misalnya povidone-iodine, dapat digunakan.
Hindari mengoleskan bahan yang dapat mengiritasi luka atau bahan yang tidak direkomendasikan secara medis. [2]
- Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan
Setelah pertolongan pertama, pasien perlu mendapatkan penilaian medis sesegera mungkin.
Tenaga kesehatan akan menentukan kategori pajanan dan kebutuhan terhadap vaksin rabies serta rabies immunoglobulin atau antibodi monoklonal apabila diindikasikan. [1]
Mengenal Post-Exposure Prophylaxis (PEP)
Post-exposure prophylaxis (PEP) merupakan tindakan pencegahan setelah seseorang mengalami pajanan yang berisiko terhadap rabies.
Menurut WHO, PEP terdiri atas beberapa komponen utama:
- Pencucian luka secara menyeluruh dengan air dan sabun selama minimal 15 menit.
- Pemberian vaksin rabies sesuai protokol.
- Pemberian rabies immunoglobulin (RIG) atau antibodi monoklonal, apabila terdapat indikasi, terutama pada pajanan berat. [1]
Secara umum, WHO membagi pajanan menjadi beberapa kategori.
Kategori I: menyentuh atau memberi makan hewan, atau jilatan pada kulit yang masih utuh. Tidak dianggap sebagai pajanan rabies dan umumnya tidak memerlukan PEP.
Kategori II: gigitan ringan pada kulit terbuka atau cakaran/abrasi tanpa perdarahan. Memerlukan pencucian luka dan vaksinasi rabies.
Kategori III: gigitan atau cakaran yang menembus kulit, kontaminasi selaput lendir atau kulit yang terluka oleh air liur, serta pajanan tertentu terhadap kelelawar. Memerlukan pencucian luka, vaksinasi, dan pemberian RIG atau antibodi monoklonal apabila tersedia dan diindikasikan. [1]
Penilaian akhir tetap harus dilakukan oleh tenaga kesehatan berdasarkan kondisi pasien, jenis hewan, karakteristik pajanan, status vaksinasi hewan, dan situasi epidemiologis setempat.
Mengapa Tidak Boleh Menunggu Gejala?
Rabies memiliki karakteristik yang sangat penting: pencegahan setelah pajanan dapat menghentikan perkembangan penyakit sebelum virus mencapai sistem saraf pusat, tetapi pilihan terapi menjadi sangat terbatas setelah gejala klinis muncul. [1,4]
Sebuah systematic review yang diterbitkan di The Lancet Infectious Diseases mengevaluasi kasus rabies pada manusia yang tetap berkembang menjadi penyakit fatal meskipun telah mendapatkan PEP. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kegagalan PEP dapat terjadi pada situasi tertentu, sehingga kualitas penanganan pajanan, ketepatan pemberian vaksin dan imunoglobulin, serta kondisi pajanan perlu diperhatikan dengan serius. [4]
Dengan demikian, prinsip yang paling penting bagi masyarakat adalah:
Jangan menunggu gejala rabies. Segera lakukan pertolongan pertama dan cari pertolongan medis setelah mengalami pajanan yang berisiko.
Bagaimana Rabies Dapat Dicegah?
Pencegahan rabies tidak hanya menjadi tanggung jawab fasilitas kesehatan. Pengendalian rabies membutuhkan kerja sama antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, pemerintah, dan masyarakat melalui pendekatan One Health. [6]
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Vaksinasi hewan peliharaan
Vaksinasi anjing dan hewan peliharaan yang berisiko merupakan bagian penting dalam pencegahan rabies. Pengendalian rabies pada sumber penularannya dapat secara langsung menurunkan risiko penularan kepada manusia. [1,6]
Hindari kontak dengan hewan yang tidak dikenal
Ajarkan anak untuk tidak mendekati, memegang, atau mengganggu hewan yang tidak dikenal, terutama hewan liar atau hewan yang menunjukkan perubahan perilaku.
Jangan mencoba menangani hewan yang dicurigai rabies sendiri
Apabila terdapat hewan yang menunjukkan perilaku tidak normal atau dicurigai terinfeksi rabies, hindari kontak langsung dan laporkan kepada pihak yang berwenang sesuai prosedur setempat.
Segera mencari pertolongan setelah pajanan
Gigitan yang terlihat kecil sekalipun tetap perlu dinilai apabila berasal dari hewan yang berpotensi menularkan rabies.
Rabies dan Konsep One Health
Rabies merupakan contoh penyakit yang membutuhkan pendekatan One Health, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Strategi global Zero by 30 yang dikembangkan oleh WHO, FAO, WOAH, dan Global Alliance for Rabies Control menargetkan penghentian kematian manusia akibat rabies yang ditularkan oleh anjing pada tahun 2030. Strategi tersebut menekankan pentingnya vaksinasi anjing, akses terhadap PEP, surveilans, edukasi masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor. [6]
Pengendalian rabies pada hewan menjadi sangat penting karena sebagian besar kasus rabies manusia berasal dari anjing. Dengan mencegah rabies pada hewan, risiko pajanan pada manusia juga dapat dikurangi.
Kesimpulan
Rabies merupakan penyakit yang dapat dicegah tetapi dapat berakibat fatal setelah gejala klinis muncul.
Jika mengalami gigitan atau cakaran dari hewan yang berpotensi menularkan rabies:
CUCI → BERSIHKAN → PERIKSAKAN
Segera:
- Cuci luka dengan air mengalir dan sabun selama minimal 15 menit.
- Hindari mengoleskan bahan yang tidak direkomendasikan pada luka.
- Segera datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penilaian risiko dan menentukan kebutuhan vaksin rabies maupun terapi tambahan.
Jangan menunggu munculnya gejala. Penanganan yang cepat setelah pajanan dapat menyelamatkan nyawa.
Penulis : dr. Sulpiana, S.Ked., M.Biomed (dr Umum Klinik IPB)
Referensi
- World Health Organization. Rabies. WHO Fact Sheet. Updated 17 September 2026.
- World Health Organization. Rabies: Health Topics. WHO.
- World Health Organization. Animal bites. WHO Fact Sheet.
- Whitehouse ER, Mandra A, Bonwitt J, et al. Human rabies despite post-exposure prophylaxis: a systematic review of fatal breakthrough infections after zoonotic exposures. The Lancet Infectious Diseases. 2023;23(5):e167–e174. doi:10.1016/S1473-3099(22)00641-7.
- Nathanson N, Koprowski H. Rabies post-exposure immunoprophylaxis is safe and effective. The Lancet.1981;2(8244):469. doi:10.1016/S0140-6736(81)90797-2.
- World Health Organization, Food and Agriculture Organization, World Organisation for Animal Health, Global Alliance for Rabies Control. Zero by 30: The Global Strategic Plan to End Human Deaths from Dog-Mediated Rabies by 2030. Geneva: WHO; 2018.
# Hari Rabies Sedunia: Kenali Rabies, Gejala, dan Cara Mencegahnya
# Hari Rabies Sedunia
# Hari Rabies Sedunia